h1

Waduh, Polisi kok Gini…

December 3, 2008

Polisi itu baik.
Polisi itu terpuji.
Polisi itu (semestinya) pengayom masyarakat.
Karena ada polisi, kita bisa (agak) tenang hidup di negara hukum. Karena kepolisian akan berusaha sekuat tenaga provide ketenangan dan perasaan aman semua orang.

Kalo ada maling, polisi yang nangkep. Walopun sering juga masyarakat kita suka tiba-tiba jadi ‘polisi dadakan’, nangkepin maling plus ngasih cinderamata berupa  tonjokan-tonjokan hangat.
Kalo ada kerusuhan, polisi berada di garda depan. Mereka yang mencoba menetralisir kembali keadaan yang kacau. Yahhh dengan -terkadang- pake pentungan juga siy. Tapi its okay, daripada kerusuhan semakin menjadi kan.
Kasus korupsi, polisi juga yang nangkepin pelaku-pelakunya. Well, bukan sepenuhnya mereka sih, peran besar nya pada lembaga pemberangus korupsi itu ya (KPK, LSM-LSM terkait, dll), tapi kan yang terjun langsung nangkepin pelakunya ya si polisi itu tadi. Susah loh, apalagi kalo sang-pelaku-korupsi punya bodyguard-bodyguard sgala macem gitu. Berantem ! *khayalantingkattinggi*

Jadi ya, polisi itu berada di pihak Putih.

Tapiiii..
sayangnya udah rahasia umum ya di negeri ini, banyak catatan-catatan dari masyarakat yang berasal dan terbentuk dari experiences selama berdekade-dekade. Ini serius loh. Kita semua pasti dah sering denger dari orangtua kita, atau orangtua nya orangtua kita, atau saudara-saudara, temen, bahkan punya pengalaman buruk sendiri tentang kinerja polisi kita.

Polantas (polisi lalu lintas) tuh yang paling banyak dipandang sinis. Secara mereka sering melakukan ‘pengadilan sendiri’ yang berdasarkan UUD. Ujung Ujungnya Duit. Pasal-pasal ga jauh dari 20ribu-50ribu paling sering kejadian. Pasal 100ribu ke atas bakal keluar kalo si-empunya-pasal lagi ‘kegatelan’. Yaaaa gitu-gitu de. You know lah.

Track record polisi-non-polantas juga banyak dapet catatan merah. Mereka cenderung over-excited kalo menangani kasus yang emang udah berdasarkan UUD tadi. Dengan nilai yang lebih fantastis, tentunya. Kalo tidak berdasarkan UUD? Whuaah… bisa kelar sih, tapi agak lamaan kali ya. Sorry to say, ga masuk prioritas.
Dan masih banyak kejadian-kejadian lainnya yang bisa mengerutkan dahi.

Pengalaman pribadi niy.
Hari Minggu, 30 November, kemaren aku melihat sendiri kelakuan negatif polisi kita dengan kedua-bola-mata-ku-yang-cemerlang-nan-menawan ini.

Ceritanya abis kelar hunting foto+bahan tulisan untuk Lensa, produk teranyar Profesi yang sedang dalam penggarapan selama satu bulan ke belakang. Pas aku lagi di TKP, yakni di ringroad utara, sekitar kawasan JIH sampe lampu merah perempatan Seturan. Aku pas di jalur lambat (naek motor, yaiyalahhh masa’ mo hunting nyusurin Selokan Mataram bersama Silvy ku tercintah ituh), kecepatan standar 50-60km/jam.

Tiba-tiba di jalur cepat ada dua moge polisi, yang warna putih-biru itu loh, dengan kecepatan yang jelas lebih tinggi. Plus, dia di jalur cepat. Which is, sepanjang yang semua-orang-tau, jalur cepat itu diperuntukkan kendaraan beroda 4 / lebih. Kalopun ada kendaraan selain itu, paling juga masuk jalur cepat cuma untuk muter (U-Turn) ke arah sebaliknya. Tapi kedua polisi yang menumpangi moge itu, sodara-sodara, dengan jumawa dan gagah nya melaju di jalur yang tidak seharusnya.

Okay, kesalahan pertama, centang.

Hati mulai misuh-misuh ke polisi itu. Buset dah, sombong bener yak mentang-mentang pake seragam. Berasa udah punya dia aja tu jalan. Peraturan dibuat untuk warga negara non-polisi, pikirnya? Uh !!
Bung, kita (warga negara) ini yang bayarin seragam lo itu ! Respect dikit napa !
*kesal kesal kesal*

Trus, trus, aku sengaja deketin jarak dengan mereka. Tapi tetep, aku di jalur lambat, mereka di jalur cepat. Dan tiba-tiba, polisi yang berada di urutan kedua melakukan apa-yang-kelak-akan-semakin-memicu-kemarahan-saya.

Apakah itu?
Oh, teman-teman, hanya hal kecil…
Make a phone call while driving…

Kesalahan kedua, centang tebal.

Yeah, we all done that before. Or still do, indeed.
Iya sih. Biasa. Tapi ga biasa, plus agak sedikit aneh kalo ngeliat seorang polisi yang ngelakuin itu.

Gila ya, mereka koar-koar nyuruh orang untuk berhati-hati selagi berkendara. Poster, pamflet, spanduk, dipasang dimana-mana. Lah, nyatanya, pa kabar tuh semua himbauan-himbauan yang makan dana ga sedikit itu?
Seharusnya itu spanduk dipajang dulu gede-gede di kamar para polisi masing-masing, biar mereka renungi, patuhi, baru disosialisasi ke masyarakat.

Udah gitu, dengan cueknya dia masi aja ngebut. 70-80km/jam, aku yakin.

Saking gondoknya ngeliat tingkah polisi ini, aku langsung tancap gas, ngeduluin mereka, trus pas udah agak jauhan menepi. Keluarlah sang handphone tersayang. I’ve got to record this !
Dapet sih, tapi cuma beberapa detik ajah, secara si-pelaku tetep ngebut gitu.
Ini hasilnya :

Jelas banget disitu, tangan kiri si-pelaku asik-asikan megang HP.
Salut Pak ! Teruskan kebiasaan itu !!!
(sarcasm)

Huffffffff….. sebenernya begitu dapet rekaman ituh, aku pengen ngejer si-pelaku, trus nanyain alasan-pembenaran dari dia. But too bad, aku kena lampu merah di perempatan Seturan ituh. Sedangkan dia? Tetap melaju kencang. Entah masih nelfon / ga.

Polisi, gimana nih ?
Masa’ gitu sih ???

7 comments

  1. maaf mas..
    kalo pengen kayak saya,
    masnya jadi pulisi juga aja…enak kok
    heheehhe…


  2. semoga ada polisi yang baca keluh kesahmu, nak…


  3. Ttg polisi kemarin aku juga liat polisi berseragam di perempatan Kentungan dengan santainya nerima telpon. Kebetulan lampu-nya sedang merah. Pas lampu hijau nyala dia ttp nggak jalan, msh ttp nerima telpon. Dia baru jalan stlh kendaraan di belakangnya ribut klakson. Itupun dia jalan dg tangan kanan msh pegang HP. Jadinya dia jalan dg “tenaga kaki-nya”. Dia bnr2 jalan stlh yg klakson dia jstru tambah banyak. Secara RingRoad kan ramai banget tuh. Akhirnya dia jalanin motor jalan dg ttp nelpon tpi skrg HP dipegang pake tanga kiri. Helm? Jelas dicopot dong demi nerima telpon itu. Yah saia cuma bisa liat aj polisi yg ga tau malu itu…


  4. aduh. lucu juga ya ngeliat oknum polantas kaya gitu. mudah-mudahan cuma -oknum- 😀


  5. iya tuh,,,baca aja ngeselin banget!!!!apalagi ngalamin….

    yg masi aq inget tuh polisinya per 3 an UIN,,,nyata2 lampu kuning…eh aq dihajar mpe dpn saphir..

    hWAH….!!!!!!!

    sebel!!!!!!!!!!!!


  6. hm…hm..

    hoho…smga aja itu cuma oknum2 plis yang kurang kerjaan,hm..polisi juga manusia kadang dy teledor or bhasa halusnya khilaf…hohohoo…
    hm…telepon jah ms..ke layanan aduan polisi…hohoho..


  7. huwaaahhhhhh…..

    akhirnya online lageh !!
    hehehe.

    Hmm… seharusnya aku nyatet no polisi / nama si pelaku ini yah, baru bisa di follow up kemana2.

    Tapi… too bad, i didnt…
    😦

    (Barusan pulang dr Medan, hey, polisi disana lebih ancur2an !!!)



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: