h1

Kita, Tak Sama

July 26, 2008


Sejak tahun 2006, saia aktif di Lembaga Pers Mahasiswa PROFESI. Salah satu organisasi semi-independen (independen dalam hal semua hal, kecuali financial issue, yang sebagian besar masih mengandalkan dari dana kemahasiswaan), yang fokus utamanya adalah jurnalistik kampus serta masyarakat pada umumnya.
Bergabung mulai dari proses magang (+/- 8 bulan), trus masuk jadi pengurus selama dua periode terakhir. Kepengurusan pertama aku dipercaya menjadi Wakil Bendahara Umum. Lalu kepengurusan sekarang (kedua,
bagiku), aku mengambil alih posisi si PeDe (bakhen!) sebagai Editor in Chief alias Pemimpin Redaksi.
Tugas Pemred ? Jelas, semua hal-hal yang berkaitan dengan apapun yang menjadi media terbitan PROFESI, adalah tanggung jawab saya. PROFESI punya beragam media terbitan / produk seperti :

  • Gelegar ; berisi liputan selama Ospek Universitas dan Fakultas, terbit 4x sesuai dengan jumlah hari Ospek. Peliputan, Pengeditan, serta Cetak, each single day of the initiation-day
  • Suplemen ; berisi dinamika seputar kampus
  • GonjangGanjing ; berisi mengenai kasus seputar kampus, satu tema dengan peliputan mendalam
  • Majalah PROFESI ; cakupan nya luas, tentang Teknologi + Social Interest masyarakat
  • Lensa ; fokus ke permasalahan sosial
  • Antologi Puisi ; berisi puisi-puisi ciamik
  • NewsLetter ; sebagai media pelatihan jurnalistik bagi teman-teman magang

Untungnya, ada teman-teman di Bidang Redaksi dan pengurus lainnya yang saya yakin akan berdedikasi tinggi terhadap PROFESI. Ada sekitar 30-an orang yang juga aktif di PROFESI. Jumlah 30-an aku rasa sudah lebih dari cukup untuk ukuran Lembaga Pers setingkat Fakultas. Lembaga yang terlalu ‘gemuk’, akan menyulitkan dalam koordinasi.

Intro ke masalah,

Seminggu yang lalu (selama beberapa hari, sesuai penjadwalan), kami mengadakan Rapat Kerja LPM PROFESI 2008-2009. Isinya, membahas program kerja apa saja dari tiap-tiap bidang yang akan dijalankan selama kepengurusan sekarang. Yang mau ku bahas di sini adalah tentang salah satu Program Kerja Bidang Redaksi, poin tambahan : Bank Tulisan.
Penjelasan dulu ya, Bank Tulisan itu semacam wadah untuk menampung tulisan-tulisan karya pengurus yang salah satu tujuannya adalah untuk menutupi -jika ada- empty space di produk-produk yang akan diterbitan.
Periode kemarin, Bank Tulisan tidak berjalan dengan baik, cuma anget-anget-tai-ayam. Makanya sebelum Rapat Kerja, kami (Redaksi,-red) akhirnya memutuskan untuk tidak memasukkan kembali Bank Tulisan sebagai Program Kerja periode sekarang dengan berbagai pertimbangan.

Bret, bret, bret, Bank Tulisan ini menjadi permasalahan pas Rapat Kerja. Sebagian pengurus menginginkan Bank Tulisan tetep masuk, dan menjadi kewajiban / keharusan / disertai sanksi bagi yang tidak menjalankan. Dari kami (Redaksi,-red) dan didukung sebagian pengurus lainnya menolak jika Bank Tulisan menjadi kewajiban. Diskusi panjang lebarrrrrr….. akhirnya Bank Tulisan lolos jadi ProKer, plus disertai ‘kewajiban’ dalam penjelasannya.
Aku sih okay-okay aja sebenernya. Jadi Proker. Plus wajib. Gak papa gitu. Terserah -mayoritas (hanya selisih dikit)- forum, kalo emang memutuskan itu jadi kewajiban. Karena ujung-ujungnya toh mereka juga yang harus menepati janji pilihan mereka sendiri.

Tapi kalo aku boleh mengeluarkan isi hati, ini jawabanku :

Jika untuk pengembangan diri pribadi, saya setuju dengan adanya Bank Tulisan. Namun sifatnya -kekeueh sumekueh- haruslah tidak wajib.
Kenapa?
Bukankah sebagai pengurus Lembaga Pers Mahasiswa kita HARUS aktif menulis?
Kata ‘HARUS’ lebih pantas diganti dengan ‘SEHARUSNYA’. Tidak mengikat, hanya menyarankan dengan underline.

Bagaimana dengan analogi anak-SD-harus-dipaksa-belajar-menulis? Bahwa guru yang memaksa anak SD untuk menulis adalah benar, pemaksaan dengan hukum legal dan mubah. (Analogi ini muncul saat dialog di Rapat Kerja kemaren, dan menjadi semacam ‘pencerahan’ bagi sebagian orang yang membenarkan).
Benar, itu emang benar. Tapi apa kita adalah anak SD? Ingat, anak SD dipaksa karena mereka memang belum punya kemantapan dalam berfikir, menentukan arahnya sendiri. Mereka masih hijau.

Kita mahasiswa, sudah selayaknya tidak ada lagi unsur pemaksaan. Melanggar Hak Asasi, saya setuju.

Lalu dimana letak ke-PERS-an kita jika tidak ada Bank Tulisan? (dialog ini juga muncul di Rapat Kerja. Ditambah lagi dengan adanya -oknum- yang berdalih Bank Tulisan akan dijadikan ‘kriteria’ untuk program kerja lain yang saat itu BELUM dibahas).
Pertanyaan aneh. Karena tolak ukur yang dipakai hanya Bank Tulisan.
Lalu apa arti kita menerbitkan Gelegar (dengan kerja keras 4 hari berturut-turut, yang tentunya sadar/tidak sadar disertai dengan loyalitas yang tinggi untuk dunia pers), Suplemen, GonjangGanjing (dengan resiko yang terkadang besar, dan sekali lagi, hanya dengan loyalitas untuk dunia pers kita berani melakukannya -kelak jika ada-), Majalah (yang kita tau sendiri bagaimana susahnya menyelesaikannya), bahkan ada lagi -insyaAllah- Lensa, ditambah lagi Antologi Puisi.
Apakah semua itu dipatahkan hanya karena Bank Tulisan?

Saya sebagai Pemimpin Redaksi, bukannya tidak mau, atau bahkan tidak bisa, untuk menulis satu, dua, tiga, empat kali sebulan. Tapi bagaimana dengan yang lain? Bagaimana dengan orang-orang yang masuk ke PROFESI, namun lebih condong ke Seni-Pers (Fotografi, Gambar Bercerita, dll), dunia usaha (marketing, EO, dll), atau yang lainnya?
Ya, mereka bisa menulis, sejelek apapun. Tapi haruskah kita paksa ? Lembaga ini kita bangun bukan hanya dengan modal tulis-menulis. Dengan dinamika hidup mereka yang masih berkutat dengan kuliah, organisasi lain (jika ada), kepanitiaan (jika ikut), hubungan sosial pertemanan, belum lagi membagi waktu untuk diri sendiri (belajar, istirahat, ekstrakulikuler lain, dll).
Sebenarnya saya juga ingin agar PROFESI lebih giat tidak hanya dalam penerbitan produk, tapi juga kegiatan jurnalistik lain seperti : pelatihan-pelatihan, diskusi, dsb. Kegiatan yang dapat menambah pengetahuan dan semakin memantapkan PROFESI sebagai Lembaga Pers Mahasiswa, seperti yang menjadi saran dan ‘wejangan’ dari alumni PROFESI kepada saya.

Tapi berbenturan dengan itu, sisi hati pribadi saya yang berseberang mengatakan bahwa saya lebih takut dengan tingkat kejenuhan yang tinggi yang akan mereka rasakan jika terlalu banyak beban yang harus ditanggung untuk berjuang di PROFESI ini. Apakah saya, dan Anda yang peduli, rela jika suatu saat satu persatu bahkan banyak di antara mereka akhirnya menyerah, jenuh, dan keluar? Jangan jadikan alasan : “they are just another quiters” , karena harus kita akui kita-lah yang menyebabkan kondisi suasana yang ‘kurang bersahabat’. Kita membunuh rasa ingin berkembang mereka (yang tidak melulu harus dengan menulis), hanya demi memaksakan kemauan orang-per-orang yang memang condong ke arah tulis-menulis?
Saya rasa itu yang tidak adil.

Saya ada di pihak orang-orang yang ingin berkembang, dengan dan lewat cara apapun yang tidak akan pernah sama satu dengan yang lainnya.
Karena kita semua berbeda.
Karena kita semua memang dimaksudkan untuk berbeda.

….
Tapi okelah, Rapat Kerja sudah lewat. Program Kerja sudah fix.
Yang kita butuhkan sekarang adalah commitment untuk melakukannya. Jika ada permasalahan ataupun halangan saat kita melakukannya, jangan tunjuk hidung satu-dua orang untuk dipersalahkan. Tanggung jawab bersama, pasang badan bersama pula.
Saya akan berusaha monitoring, khususnya dalam hal ini : Bank Tulisan, sekuat tenaga saya. Mengingatkan, mengingatkan, dan mengingatkan akan terus dilakukan. Tapi semua nya kembali lagi ke diri pengurus masing-masing. Untuk menjadi maju, adalah pilihan pribadi.

Kita sudah melakukan banyak hal membanggakan di tahun-tahun kemarin dan ke belakang, dan insya Allah dengan semangat yang kuat dan tekad bersama, kita akan melakukan lebih banyak hal membanggakan lagi.

Aminnn..

Salam Mahasiswa !
Salam PROFESI !

5 comments

  1. Juz…
    lagi emosi yak waktu nulis postingan ini??
    hehehe,,piss bro


  2. nyante pak….

    mungkin mereka memang butuh pemaksaan….


  3. @gurindang
    ga emosi kaleee… Nulisnya aja tgl brp coba, udah lupa,, cm mnuangkan uneg2 ajah..

    @ncep
    aku udh tulis pendapatku ttg pmaksaan..
    =p


  4. yah, mari kita beri contoh pd profesian yg lain. jgn kayak PU dan pemrede kemarin
    hehehehe


  5. PU dan Pemred kemarin sudah melakukan tugas sekuat yang mereka mampu, dan saya mengacungkan -empat- jempol kepada mereka berdua.
    Kita, akan melanjutkan apa yang sudah mereka kerjakan, dengan usaha yang lebih lagi.
    Siap, Pak !!!
    🙂



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: